Lukisan tersebut bukan sekadar gambar abstrak, melainkan sebuah peta kosmologi yang mengejutkan. Di dalamnya, Bumi digambarkan bak sebuah panggung pertunjukan di mana manusia hidup di lapisan paling bawah. Namun, yang menarik perhatian adalah perjalanan jiwa: mereka naik menembus lapisan-lapisan, diawasi oleh sosok "pengamat" atau over soul, hingga menuju satu titik puncak—sebuah cahaya yang teramat agung.
Simbolisme Tujuh Lapisan dan Kosmologi Islam
Jika diperhatikan dengan saksama, struktur vertikal dalam lukisan Yusuff terdiri dari tujuh tingkat atau layer. Kita bisa menyebutnya sebagai tujuh dimensi, namun interpretasi yang paling mendekati pemahaman spiritual adalah konsep "langit".
Hal ini menarik garis paralel yang kuat dengan ajaran Islam. Di dalam Al-Qur'an, Allah berfirman tentang penciptaan "sab‘a samāwāt" atau tujuh langit.
"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit." (QS. Al-Baqarah: 29)
Tanpa bermaksud menyamakan secara harfiah antara visi visual seorang pelukis dengan wahyu Ilahi, konsep realitas yang berlapis-lapis ini memiliki resonansi yang kuat. Lukisan tersebut menggambarkan bahwa semakin tinggi lapisan yang ditempuh jiwa, semakin dekat ia dengan sumber segala sesuatu (The Source).
Transendensi Tuhan: Laisa Kamitslihi Syai’
Salah satu elemen paling krusial dalam lukisan Yusuff adalah keberadaan "Cahaya Agung" yang berada di luar semua lapisan dan di luar over soul. Apakah ini selaras dengan akidah Islam?
Di sinilah kita harus menarik garis tegas antara tafsiran visual dan akidah. Dalam Islam, prinsip ketuhanan yang paling mendasar adalah Laisa kamitslihi syai’ (Tiada sesuatu pun yang menyerupai Allah).
Maknanya sangat dalam:
- Allah bukanlah bagian dari ciptaan (makhluk).
- Allah tidak terikat dalam sistem dimensi atau hierarki ruang dan waktu.
- Allah Maha Berbeda dan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun yang bisa diimajinasikan manusia.
Jika dalam lukisan tersebut "Cahaya Agung" digambarkan berada di luar semua sistem lapisan, maka secara filosofis itu mendekati konsep transendensi Tuhan. Bahwa Allah itu Maha Tinggi, Maha Berbeda, dan di luar jangkauan nalar dimensi makhluk-Nya. Segala bentuk visual hanyalah metafora, karena dzat-Nya yang suci tak tersentuh oleh batasan bentuk.
Manusia sebagai "Mahkluk Allah"
Lukisan ini juga membawa kita pada perenungan tentang keterhubungan (interconnectivity). Karena segala sesuatu bersumber dari Pencipta yang Satu, maka pada hakikatnya semua makhluk adalah mumkinul wujud (wujud yang sementara dan bergantung pada-Nya).
Semuanya terhubung dalam satu kesatuan ciptaan. Ibarat satu tubuh, jika bagian kanan disakiti, maka bagian kiri pun akan merasakan sakitnya.
Pemahaman ini selaras dengan pandangan Islam yang memuliakan manusia. Dalam sebuah riwayat (sering dikutip sebagai atsar atau hadis qudsi), manusia disebut sebagai "Bunyanullah" atau bangunan Allah. Menghancurkan atau membunuh manusia tanpa hak adalah dosa besar karena sama saja dengan meruntuhkan bangunan yang diciptakan-Nya.
Lebih jauh lagi, hati manusia adalah "Baitullah" (Rumah Allah) dalam makna spiritual. Di dalam hati seorang mukmin tersimpan "rahasia suci" (sacred secret) sebuah kapasitas spiritual dahsyat yang bahkan gunung pun tidak sanggup memikulnya, namun dimampatkan ke dalam diri manusia.
Kesimpulan
Lukisan NDE Yusuff Shakur menjadi pengingat visual yang kuat tentang perjalanan jiwa dan struktur alam semesta yang bertingkat. Namun, lebih dari sekadar seni, ia mengajak kita merenungi kembali posisi kita. Bahwa di balik lapisan-lapisan dimensi ini, ada Zat Yang Maha Tunggal, tempat kita menyembah dan kembali. Manusia diciptakan bukan untuk sekadar hidup di "panggung bawah", melainkan untuk mengesakan dan beribadah kepada Dia Yang Maha Segala.

Facebook Conversations