Namun, sebesar apa pun kekuasaan, ia tetap rapuh jika dibangun tanpa fondasi tata kelola yang sehat.
Dari Pedagang Menjadi Penguasa
Awalnya VOC didirikan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Asia. Tapi seiring waktu, ambisi dagang berubah menjadi ambisi politik. Di Nusantara, VOC tidak hanya membeli dan menjual barang. Mereka memungut pajak, membangun benteng, mencampuri konflik kerajaan, bahkan menentukan siapa yang boleh naik takhta.
Perusahaan ini menjelma menjadi negara dalam negara.
Masalahnya, ekspansi kekuasaan itu tidak diimbangi dengan sistem pengawasan internal yang kuat. Kantor pusat di Belanda terlalu jauh untuk mengontrol pejabat di lapangan. Sementara itu, kekuasaan besar di wilayah jajahan membuka ruang godaan yang sama besarnya.
Korupsi yang Menggerogoti dari Dalam
Di tubuh VOC, praktik korupsi menjadi rahasia umum. Pejabat memperkaya diri lewat perdagangan ilegal. Barang dagangan perusahaan “bocor” ke jalur pribadi. Jabatan diperjualbelikan. Laporan keuangan dimanipulasi agar terlihat menguntungkan.
Akibatnya, biaya operasional membengkak tanpa kontrol. Utang menumpuk. Keuntungan menurun, tetapi gaya hidup elite perusahaan tetap tinggi. VOC perlahan berubah dari mesin uang menjadi beban finansial.
Ironisnya, perusahaan yang begitu agresif mengeksploitasi wilayah jajahan justru tidak mampu mengendalikan moral dan disiplin organisasinya sendiri.
Tekanan dari Luar: Perang dan Perubahan Zaman
Masalah VOC bukan hanya dari dalam. Dunia juga berubah. Di Eropa, selera pasar mulai bergeser. Rempah-rempah tidak lagi menjadi komoditas “emas” seperti sebelumnya. Sementara itu, biaya perang dan ekspansi militer terus membengkak. Konflik laut dengan Inggris memperlemah posisi dagang VOC, terutama setelah kekalahan dalam berbagai pertempuran melawan armada Inggris.
Di sisi lain, administrasi internal VOC terkenal lamban dan tidak efisien. Rantai birokrasi panjang membuat keputusan terlambat diambil. Dalam dunia perdagangan global yang dinamis, kelambanan adalah hukuman mati.
Semua faktor ini saling berkaitan. Korupsi memperlemah keuangan. Keuangan yang lemah membatasi kemampuan perang. Kekalahan perang memperburuk perdagangan. Perdagangan yang menurun membuat utang makin tak terkendali. Sebuah lingkaran kehancuran.
1799: Akhir Sebuah Raksasa
Pada akhirnya, pada tahun 1799, VOC resmi dibubarkan. Seluruh aset, utang, dan wilayah kekuasaannya diambil alih oleh negara Belanda. Perusahaan yang pernah disebut sebagai salah satu yang terkaya dalam sejarah manusia runtuh — bukan karena satu kekalahan besar, tetapi karena akumulasi kesalahan yang dibiarkan terlalu lama.
Kisah VOC adalah pengingat bahwa kekuasaan tanpa pengawasan melahirkan penyalahgunaan. Ekspansi tanpa tata kelola melahirkan kehancuran. Dan organisasi sebesar apa pun bisa runtuh jika gagal mengelola ambisi serta integritasnya sendiri. Sejarah tidak hanya tentang kejayaan. Ia juga tentang peringatan.

Facebook Conversations