Kerja Keras, Tetap Miskin? Ini Penjelasan Karl Marx tentang "Pencurian Legal"
Bayangkan kamu bangun pagi dengan alarm yang terasa seperti sirene perang. Terburu-buru mandi, menembus macet, duduk berjam-jam di depan layar atau berdiri seharian melayani pelanggan. Pulang malam dengan badan remuk, pikiran kosong, dan energi yang terkuras. Lalu saat gajian tiba, uang itu hanya cukup untuk bayar kontrakan, cicilan, listrik, dan kebutuhan dapur. Tidak ada sisa berarti.

Di sisi lain, atasanmu mengunggah foto liburan ke Bali. Perusahaannya mencetak laba, mobil baru terparkir di garasi, rumah semakin besar, investasi semakin banyak. Kamu mungkin pernah bertanya dalam hati: kenapa rasanya tidak seimbang?

Bagi Karl Marx, perasaan tidak adil itu bukan sekadar emosi. Itu adalah konsekuensi logis dari cara sistem ekonomi bekerja. Ia menyebutnya sebagai pengambilan “nilai lebih” atau surplus value — sebuah mekanisme di mana pekerja menciptakan nilai yang jauh lebih besar daripada upah yang ia terima.

Kerja Kamu, Nilai untuk Siapa?

Mari kita sederhanakan. Bayangkan dalam satu hari kamu menghasilkan nilai ekonomi senilai satu juta rupiah bagi perusahaan. Tapi kamu hanya dibayar dua ratus ribu. Selisih delapan ratus ribu itulah yang menjadi keuntungan — setelah dipotong biaya lain — dan pada akhirnya mengalir ke pemilik modal.

Dalam kacamata Marx, di sinilah letak inti persoalan: tenaga kerja dibeli seperti komoditas. Kamu dibayar berdasarkan “biaya hidup minimum” agar tetap bisa bekerja besok, bukan berdasarkan seluruh nilai yang kamu hasilkan hari ini. Selama sistem ini berjalan, kepentingan pekerja dan pemilik modal akan selalu bertabrakan.

Kapitalis membutuhkan keuntungan maksimal. Pekerja membutuhkan hidup yang layak. Ketika perusahaan ingin menekan biaya, yang paling mudah ditekan adalah upah, tunjangan, dan jumlah tenaga kerja. Maka terjadilah PHK massal di saat perusahaan tetap membagikan bonus besar kepada jajaran eksekutif. Apakah ini kebetulan? Dalam analisis Marx, tidak. Ini desain.

Sejarah sebagai Pertarungan Kelas

Marx melihat sejarah bukan sebagai kisah raja dan pahlawan, tetapi sebagai sejarah pertarungan kelas. Feodalisme pernah berdiri kokoh, lalu runtuh dan digantikan oleh kapitalisme. Menurutnya, setiap sistem membawa kontradiksi internal yang pada akhirnya akan menghancurkannya sendiri.

Dalam kapitalisme, kontradiksi itu adalah kesenjangan yang terus melebar. Semakin besar akumulasi kekayaan di tangan segelintir orang, semakin banyak pekerja yang hidup dalam tekanan ekonomi. Produktivitas naik, teknologi berkembang, perusahaan makin efisien — tetapi kesejahteraan tidak otomatis mengalir ke semua orang.

Ketika pekerja mulai menyadari bahwa kondisi mereka bukan akibat kemalasan pribadi, melainkan struktur ekonomi, di situlah benih perubahan tumbuh. Bukan dari belas kasihan elite, tetapi dari kesadaran kolektif.

Bukan Sekadar Teori, Tapi Kacamata

Yang diajarkan Marx bukan hanya rumus ekonomi, melainkan cara melihat dunia. Ia mengajak kita bertanya: siapa yang benar-benar menciptakan nilai? Siapa yang menikmati hasilnya? Mengapa orang yang bekerja paling keras sering kali justru hidup paling pas-pasan?

Setiap kali kamu merasa sudah bekerja maksimal tetapi tetap sulit menabung, itu bukan otomatis karena kamu kurang berusaha. Setiap kali kamu melihat CEO menerima bonus miliaran sementara karyawan dirumahkan, itu bukan peristiwa acak. Dalam logika kapitalisme, perusahaan memang dirancang untuk memaksimalkan keuntungan pemilik modal.

Kesadaran akan pola ini bisa menjadi langkah awal pembebasan. Bukan berarti semua orang harus setuju dengan seluruh gagasan Marx, tetapi memahami kritiknya memberi kita perspektif yang lebih tajam.

Pertanyaan yang Mengubah Arah

Marx pernah menulis bahwa para filsuf hanya menafsirkan dunia, padahal yang penting adalah mengubahnya. Perubahan besar selalu dimulai dari pertanyaan sederhana.

Untuk siapa sebenarnya aku bekerja?
Berapa nilai nyata dari tenagaku?
Mengapa hasil kerjaku lebih banyak mengalir ke orang yang tidak mengerjakannya?

Mungkin jawabannya tidak langsung mengubah hidupmu hari ini. Tetapi kesadaran mengubah cara kamu memandang dirimu sendiri — bukan sebagai roda kecil yang mudah diganti, melainkan sebagai pencipta nilai.

Dan dari kesadaran itulah, setiap perubahan besar selalu bermula.

YOUR REACTION?


You may also like

Facebook Conversations